Berbekal rasa penasaran meski tidak tahu apa-apa sama sekali, akhirnya saya memutuskan untuk nonton film Predator: Badlands dari franchise Predator untuk pertama kalinya.
Awalnya saya skeptis bahkan tidak ada ekspektasi tinggi apa pun mengenai film ini. Namun, semua itu sukses dipatahkan setelah saya selesai menontonnya.
Pasalnya mulai dari segi cerita, karakter, musik hingga visual yang ditampilkan sangatlah kokoh. Terutama makna cerita mendalam serta efek visual dari action yang ada begitu memukau. Saya rasa inilah yang menjadi daya tarik utama dari film yang sedang tayang di bioskop ini.
Cerita yang Gampang Ditebak Tapi Tetap Solid Diberikan
Film dimulai dari sudut pandang Yautja bernama Dek (dibintangi Dimitrius Schuster-Koloamatangi) yang menjadi karakter protagonis. Dek punya ambisi besar, dia hidup bukan hanya menjadi sosok ‘monster’ yang berburu manusia.

Tapi tidak seperti spesies predator lainnya, dia memiliki proporsi tubuh yang lebih kecil serta kemampuan yang dianggap lemah. Dan tentunya sebagai MC (main character), Dek berhasil mematahkan semua argumen tersebut.
Walau kesan alur ceritanya mudah ditebak, tapi entah kenapa rasanya berbeda dengan cerita lainnya. Terutama soal pengembangan karakter yang dibawakan, dari soal Dek yang awalnya keras kepala jadi karakter yang lebih mudah menerima. Bahkan juga lewat gaya bertarungnya yang hanya memakai kekuatan otot di permulaan, menjadi gaya pertarungan yang mengombinasikan kekuatan plus otak.
Hal-hal tersebut yang saya pikir jadi sangat indah ketika digabungkan. Ditambah lagi konflik yang diberikan juga tidak fokus hanya di Dek. Ada pula problem persaudaraan, persahabatan hingga pengkhianatan yang saya rasa jadi kunci utama karakter-karakter yang ada lebih berkembang dan jadi dewasa.
Selain itu dari segi cerita, sebetulnya bisa dibilang sedikit klise alias ‘template’. Layaknya tokoh utama yang selalu dianggap lemah dan diremehkan, bahkan dipandang tidak bisa jadi yang terkuat. Namun tiba-tiba menjadi sosok ‘FROM ZERO TO HERO’, hal ini juga mengingatkan saya pada plot anime shounen kebanyakan.
Kenapa saya bandingkan dengan anime shounen? Seperti yang sering kita tahu biasanya MC anime shounen kebanyakan selalu menggunakan plot armor yang terkadang justru membuat ceritanya jadi lazy writing, MC yang overpower dan tiba-tiba menang meski tidak masuk akal contohnya.
Sama halnya dengan film Predator: Badlands 2025 ini yang juga punya plot armor. Namun plot armor yang MC miliki dibungkus dengan cerita yang seru dimana film ini tidak asal membuat sang tokoh utama menang begitu saja karena dia MC.
Bumbu-bumbu Romance Tetap Ada Sebagai Pemanis
Satu hal lagi yang membuat saya menyukai film Predator: Badlands di bioskop ini. Saya tidak menyangka kalau bisa sampai suka dengan bumbu-bumbu romance yang diberikan.
Mungkin karena unsur romance yang diberikan terasa unik bahkan aneh, karena menceritakan hubungan predator dengan Android. Meski berbeda spesies tapi hubungan mereka tetap terasa tulus.

Interaksi yang terjadi antara Dek dan Thia (Dibintangi Elle Fanning), tidak terlihat dipaksakan dan berlebihan. Bahkan kisah mereka menghasilkan makna dalam sebab Thia bukan hanya pelengkap cerita, namun menjadi katalis perubahan karakter Dek.
Dek jadi ada alasan untuk sedikit demi sedikit mengubah perilakunya, makanya saya berpikir pengembangan karakter yang ditampilkan terasa bagus. Dan dari hubungan kedua karakter ini, kita jadi bisa melihat sisi lain Yautja yang jarang ditampilkan. Kita jadi tahu bahwa sosok predator pun memiliki perasaan seperti emosi, rasa kehilangan dan bahkan keinginan untuk dimengerti.
Walau cerita utamanya memang tidak fokus ke persoalan romansa, tapi dengan tetap memasukkan bumbu romance jadi salah satu hal yang membuat saya menyukai film ini.
Visual Effect Serta Koreografi yang Tidak Biasa
Kalau menilai soal visual effect, koreografi bahkan musik beserta sound systemnya, saya pun merasa puas. Planet Genna yang menjadi setting dalam cerita film ini kelihatan begitu penuh warna namun juga misterius dan penuh bahaya. Predator: Badlands berhasil menampilkan dunia yang begitu hidup secara mendetail.
Desain para Yautja juga terlihat realistis dan keren dengan persenjataan yang memang ada fungsi, bukan hanya aksesoris semata. CGI-nya pun rapi terutama saat adegan action jarak dekat dengan berbagai koreografi yang solid.
Gerakan-gerakan pertarungan kelihatan berat tapi tetap jelas dan tanpa perlu banyak darah yang berlebihan. Fokus kamera untuk menampilkan detail tiap gerakan bertarung sangatlah bagus dan semua disajikan dengan tempo pas. Gaya bertarung Dek yang awalnya sangat kasar jadi lebih strategis dan hal ini juga yang bikin tiap duel memuaskan.
Musik membawa efek dramatis karena menjadikan tiap momen berkelahi dalam film lebih menegangkan. Sound effect yang memukau seperti suara senjata yang beradu juga tidak kalah keren kalau saya bandingkan dengan film lainnya.
Layakkah untuk Ditonton?
Predator: Badlands jadi pengalaman pertama saya di seri ini dan rupanya meninggalkan kesan yang cukup kuat. Dari ceritanya yang mudah dicerna karena sederhana namun tetap dibawakan secara matang hingga soal perkembangan karakter dan visual yang memukau.
Meski begitu, ada satu hal yang menurut saya begitu mengganjal. Film ini entah kenapa ditujukan untuk para penonton usia 13+ dimana berarti anak-anak boleh ikut menonton. Menurut saya hal ini jadi menghambat cerita dan visceral actionnya.

Batasan usia tersebut jadi membatasi kisah yang lebih kompleks dan adegan yang sebetulnya bisa dibuat lebih gore. Seandainya saja rating usia tersebut lebih ditujukan untuk penonton dewasa, maka saya rasa hasilnya jadi lebih jauh memuaskan. Ceritanya jadi lebih dalam dengan konflik yang berani dan aksi pertarungan yang lebih buas.
Walau demikian, film ini menurut saya masih tetap seru ditonton oleh orang dewasa, bahkan semua usia dapat menikmatinya.
Meski tampaknya film ini memang sengaja dibuat sebagai action movie keluarga. Tapi dari efek suara, action serta musiknya terasa menyatu dengan sempurna, apalagi kalau menontonnya langsung di bioskop.
Overall, memang review saya tentang film Predator: Badlands ini sangatlah subjektif. Namun satu hal yang bisa saya sarankan yaitu film ini sangatlah layak untuk ditonton dan kalau bisa selama film masih ditayangkan di bioskop.






Discussion about this post